Follow Us @soratemplates

Sunday, December 30, 2018

Mencari ‘Ikhlas’ Demi Terkabulnya Doa.

December 30, 2018 0 Comments


                                  Gambar : Pexel.com

Ikhlas, kata yang sering kita ucapkan.  Meski kadang belum tentu kita meresapi maknanya.  Pernah begitu, Teman?

Contoh nih ya, ketika seseorang meminta sesuatu sama kamu tapi kamu terlihat kurang ‘ikhlas'. Biasanya teman kamu itu akan menanyakan kembali biar lebih mantap, "Kamu beneran ikhlas"? bisa saja kamu jawab "Iya, aku ikhlas kok" padahal mungkin di hati berkata lain, ya kan?.

Ikhlas juga,  yang merupakan salah satu syarat terkabulkannya doa. Sebagaimana firman Allah
“ Artinya: Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya” (Ghafir: 14).
Ikhlas merupakan tauhid untuk memurnikan ibadah segala apa yang kita lakukan semata-mata karena Allah Ta’Ala.

NAH, Teman! Di sini saya pengin sharing bagaimana perjalanan saya  mengaktivasi rasa Ikhlas itu. Tulisannya panjang banget, silahkan kalau mau pakai metode scanning dan skimming dalam membacanya, wkwkw..semoga bermanfaat!


Penantian Buah Hati yang Lama

Diawali dengan penantian buah hati yang lama. Setelah melewati usia pernikahan selama hampir dua tahun , tanda-tanda hadirnya sang buah hati belum terwujud juga. Akhirnya kami memutuskan untuk menjalani promil .  Dari situ saya tahu kalau saya memang bermasalah. Yup, Kalau yang orang lain  dengan mudah mendapatkan anak, namun tidak begitu dengan saya. Dokter mengatakan kalau saya punya sindrom PCOs.

PCOs ditandai dengan periode menstruasi yang tidak tepat . Memang kenyataannya sejak gadis periode menstruasiku tidak pernah tepat, kadang 2 bulan sekali bahkan pernah satu tahun hanya 3 x.  Karena itu dokter menyarankan untuk program hamil menstabilkan hormon.

Bisa dibayangkan padahal saat itu kami berdua masih hidup di kontrakan. Jadi mau tidak mau setiap bulan harus berhemat untuk menyisihkan uang yang tidak sedikit dalam rangkaian program tersebut.

Dan alhamdulillah setelah program hampir satu tahun akhirnya saya hamil juga.

Namun Qodarullah, calon manusia itu hanya dititipkan selama 4 bulan saja di kandungan. Shock, sedih, tidak terima saat tahu kalau jantung calon anakku sudah berhenti saat aku memeriksakan diri saat USG.   Terlebih karena janin sudah lebih dari 4 bulan maka  harus dilahirkan paksa atau induksi.

Saya ingat saat itu proses induksi dilakukan beberapa kali agar janin keluar. Lewat infus bahkan sampai menggunakan benda sejenis pentil sepeda yang dimasukkan ke rahim menggunakan alat seperti dongkrak gitu, sakiiiit... banget!. Bahkan saya merasakan sakitnya  lebih daripada melahirkan.

Daan... setelah janin keluar dan proses kiret selesai, saya harus disedihkan lagi karena ASI keluar padahal tidak ada yang bisa disusui, hiks..hikss. Akhirmya ASI berhenti setelah proses meradangnya PD saya.

Tertutupnya Mata Hati Saat  Harapan tidak Sesuai Kenyataan

Jahilnya diri saat itu  karena mata hati saya tertutup. Saya benar-benar seperti tidak terima dengan keputusan Allah. Semua saya salahkan, mulai dari suami yang lebih sibuk sendiri, mertua yang banyak aturan, banyak tuntutan di kantor, dan lain sebagainya. Astaghfirullah, aneh kan, saya?

Kemudian setelah 3 bulan proses recovery, dokter menyarankan untuk ikut promil lagi. Sebenarnya saat itu ikhtiar saya tidak hanya lewat medis saja, namun juga dengan mengonsumsi obat herbal, meminta doa orang sholeh dan anak-anak yatim.

Teman-teman tahu kan ya,  bagaimana rasanya kalau lebih dari 3 tahun menikah belum juga diberi buah hati. Mulai dari nyinyiran  teman, tetangga sampai dikatakan mandul sama mertua, hiks,,hiks.. Itu yang membuat saya nggak sabar.

Saya bertanya mengapa setelah semua usaha dan doa, Allah belum mengabulkannya juga? saya merasa ada yang salah dengan yang saya.

Belum Ikhlas. Benar rasa itu tampaknya belum saya resapi. Padahal, ini hal terpenting agar doa dikabulkan. Ya, saya sadar betapa egois saat berdoa saya meminta harus..harus Allah kabulkan. Seakan ibadah, sedekah dan semua yang dilakukan semata-mata agar keinginan saya terpenuhi. Inilah yang salah.

Bukankah memberi keputusan adalah hak prerogatif Allah?. 

Namun bagaimana memunculkan ‘Ikhlas’ itu?

Mencari ‘Ikhlas’ Lewat Aktivasi Kekuatan Hati


Tahukah teman, Saya mencoba dengan keyakinan hati serta mencari tahu tentang hal ini. Maka sembari berikhtiar lewat tenaga medis, saya juga berusaha memunculkan ‘ikhlas’ itu dengan memahami lewat buku yang saya baca.

Buku itu berjudul  Quantum Ikhlas, Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati, karya Erbe Sentanu. Buku ini sangat best seller.

Membaca buku itu seakan membuka harapan saya kembali. Apalagi dalam testimoninya si penulis bercerita tentang hal yang sama, yaitu kesulitan mendapat anak. Doanya terkabulkan juga  setelah mengaktivasi kekuatan hatinya.

Aktivasi kekuatan hati dalam buku ini salah satunya dipancing dengan cara memahami buku serta mendengarkan CD yang menyertainya. CD itu dimaksudkan untuk  UPGRADE HARDWARE  otak bawah sadar.


Bagi teman yang pernah mendengarkan CD ini, mungkin bisa merasakan.
Saat detik pertama kita mendengar bunyi percikan air, suara katak, angin, ah rasanya tenang dan damai. Terasa melepas beban stress saat menarik  gelombang beta menuju gelombang alfa.

Setelah hampir 15 menit, kita akan merasakan seperti melayang, dan melihat sebuah sinar. Saat sinar dan perasaan tenang itu muncul, kita disarankan untuk berdoa kepada Allah meminta apa yang kita inginkan sambil membayangkan keinginan kita,  mencium baunya serta seakan merasakan gerakannya, ya, saya membayangkan seorang bayi yang cantik, lucu dan menyenangkan dengan wanginya yang khas.

Pertanyaannya, setelah UPGRADE HARDWARE  otak bawah sadar memancing rasa ikhlas itu muncul, apakah DOA saya terkabul segera?
Ternyata tidak!. Setelah hampir satu tahun saya telaten mengupgrade otak saya, dan mengikuti program dokter yang belum juga berhasil, akhirnya saya pasrah.

Mendapatkan Esensi  Ikhlas yang Sesungguhnya



Saya hentikan semua usaha. Tidak lagi ke dokter ataupun mendengarkan CD itu.Saya benar-benar pasrah, hanya meminta Allah agar kebaikan tetap terjaga untuk keluarga kami.

Sikap suami yang sabar dan selalu berpositif thinking, itulah yang membuat saya tetap tenang. Kami sudah tidak lagi berpikir untuk treatment bayi tabung, maka dengan tabungan yang ada, kami putuskan untuk membeli rumah.

Saya ingat saat itu kami menandatangani pembelian rumah tanggal 16 September. Dan 4 hari kemudian saya menemukan 'sesuatu' yang ‘ajaib’ menurut diri saya.

Malam itu saya bermimpi di sebuah tanah lapang, ada banyak bayi di sana sini.

Apakah ini pertanda saya hamil? Saya penasaran ingin pakai testpack. Meski sebenarnya saat itu ragu, karena testpack biasanya dipakai kalau wanita sudah telat haid, kan?. Sedang masa haid saya masih 10 hari lagi. 

Bismillah...Saya coba dan ternyata... Masya Allah...Allah Maha Besar,
Allah mengabulkan DOA saya setelah berpasrah diri, pasrah pada putusanNya dengan hidup saya.

Ternyata inilah yang disebut Ikhlas. Perasaan pasrah setelah semua usaha dan doa yang kita lakukan, semata-mata karena Allah SWT.

Disetujui atau tidak, Segala keputusan itu  adalah Hak Allah. Kalau memang iya doa kita terkabul, itu merupakan bonus dari Sang Maha Kuasa.

Kalau dulu saya menutup diri ketika banyak orang berkata  “sabar..sabar..Allah akan memberinya pada waktu yang tepat”.  Namun sekarang sudah lain ceritanya, bisa saya jawab “Iya benar, Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan dan Allah akan memberi yang kita inginkan pada saat yang tepat.”

Memang diri saya yang terlalu jahil untuk cepat memahami. Perlu proses lama untuk menuju ke arah itu, itulah diri saya.  Sangat lebay dan naif, ya?

Alhamdulillah sekarang bayi itu tumbuh dengan sehat dan sekarang sudah berusia 6 th. Semoga dia jadi anak sholehah, selalu sehat dan panjang umur. Aamiin...

Proses pencarian itu meninggalkan bekas bagi kami.

-          Saya dan suami jadi lebih mendekatkan diri kepada Allah
-          Adanya prioritas tetap dari rezeki kami untuk 25 anak-anak yatim yang setiap bulannya datang ke rumah.
-          Serta bertambahnya rasa syukur kepada Allah.

Pengalaman ini juga sering saya tularkan kepada anak didik saya saat mereka galau menghadapi lomba

 Kamu sudah berusaha. Kalau kamu memang juara, itu bonus buat kamu. Kalau ternyata tidak, Allah sudah tahu bagaimana usaha dan doa kamu. Pasrahkan dan terserah Allah saja yang Maha Menentukan, ya.” Itu kata-kata yang sering saya ucapkan saat mendampingi mereka lomba.

Dan Alhamdulillah...karena pemahaman mereka, beberapa kali  doa kami dikabulkan. Lebih dari dua kali, anak-anak yang kami bimbing untuk ikut lomba “ English Contest, Story Telling” bisa menjadi juara satu tingkat provinsi.
*************************************

Nah, itu cerita saya, Duh panjang banget ya, semoga tidak eneg habis membacanya..wkwkwk

Wednesday, December 26, 2018

9 Hal yang Perlu Dipersiapkan Agar Ibadah Umroh Lancar

December 26, 2018 20 Comments



Assalamualaikum ,

Seperti kita tahu, berkunjung ke Mekah dan Madinah adalah cita-cita hampir seluruh umat muslim di dunia  inginkan,ya. Dan bagi orang yang pernah mengunjunginya, bukannya berhenti  rasa penasaran akan kota ini, namun ada  sensasi ‘berbeda’  layaknya orang jatuh cinta yang rindu. Ingin datang dan bertemu kembali. Beneran deh!

Karena itu, maka  tidak mengherankan jika  antrian berangkat  haji semakin tahun semakin lama.  Selain itu , bertambahnya biro umroh setiap tahunnya menandakan bisnis ini tidak akan sepi peminatnya.

Namun sayang, ketika ada beberapa orang yang meski punya waktu dan dana pergi ke sana tapi ibadahnya tidak maksimal. Tau Kenapa? Ya, Salah satunya mungkin karena kurangnya persiapan fisik maupun mental. Pastinya sayang banget ya, jika kesempatan yang ada, waktu serta dana yang dikeluarkan sia-sia belaka karena kurang persiapan kita ini.

So, Berkaca dari pengalaman saya beserta teman, ada beberapa hal  yang mengusik diri dan ingin saya perbaiki  jika diijinkan untuk kembali ke sana. Sehingga saya berpikir beberapa hal harus benar-benar dipersiapkan. Semua itu  akan saya jadikan pedoman untuk diri saya pribadi dan semoga bisa memberi pengetahuan  lebih untuk para calon tamu Allah yang lainnya. Apa saja hal tersebut? Silahkan disimak!


 9 Hal yang Perlu Dipersiapkan  Agar Ibadah Umroh Lancar dan Mudah

1.      Kuatkan Niat

Niat adalah hal yang terpenting. Karena jika kita beribadah ke tanah suci  bukan semata-mata karena Panggilan Allah SWT, bisa saja Allah Yang Maha Mengetahui tidak ridho akan kedatangan kita. Alhasil bisa terjadi meski kita sampai di sana namun Allah tidak mengijinkan kita beribadah di kotaNYa yang suci.

Pengalaman saya dulu, ada teman yang datang dari Indonesia sehat dan bugar, namun saat tiba di sana sakit. Bahkan sampai tidak bisa melaksanakan semua rukun umroh ataupun melihat Ka’bah di Masjidil Harom.   Wallahu a’lam apa yan terjadi dengan beliau. Saya berdoa semoga Allah memberi kesempatan Ibu tersebut untuk menjadi tamuNYa kembali, Aamiin...

2.      Persiapkan Fisik, Mental Maupun Material

Sejatinya umroh adalah ibadah fisik dan mental. Diperlukan fisik dan mental yang kuat sebelum menjalaninya. Untuk itu dianjurkan memelihara fisik dengan berolahraga sederhana seperti jalan sehat sebelum berangkat ke sana. Selain itu juga stamina dijaga dengan cara makan makanan bergizi serta istirahat yang cukup.

Dari segi material, ikuti petunjuk dari biro untuk membawa barang-barang yang dibutuhkan seperti berapa stel baju yang harus dibawa,  perlengkapan untuk umroh dan lain sebagainya.

3.      Ikuti Manasik Umroh secara Benar dan Pelajari Rukunnya

Ikuti manasik dengan benar dengan tidak lupa mempelajari rukunnya.  Walaupun  nantinya kita dipandu oleh  seorang Muthawif, namun dari niat yang kita tunjukkan dengan mempelajari rukun umroh secara benar, itu membuat  kita semakin mantap saat beribadah nanti.

4.      Banyak Berdoa untuk Kelancaran, Kesehatan Serta  Cuaca yang Nyaman

Meski saya sudah berkali-kali berdoa sebelum berangkat, tidak ada salahnya jika kita berdoa kembali agar cuaca bersahabat, fisik kita kuat dan nyaman dengan makanan, hotel dan segalanya terutama saat sampai di bandara dan menginjakkan kaki di kota Mekah. 

Saya jadi ingat, sewaktu umroh di awal November yang lalu. Teman satu biro yang sudah berangkat tiga hari sebelumnya mengatakan kalau cuaca disana sangat dingin. Beliau juga menceritakan  kalau beberapa jamaah terkena diare. Dia sarankan untuk membawa baju tebal serta obat-obatan.

Ya, meski saya mempersiapkan diri juga, namun tetap memohon untuk diberi kenyamanan saat di sana.   Jadi saat turun dari pesawat saya berdoa kembali agar suasana  menyenangkan seperti di tanah air.

Dan Alhamdulillah Allah kabulkan juga. Di sana saya dimudahkan beribadah dan bisa sholat setiap waktu di Masjidil Haram karena cuaca bersahabat., tidak panas, dingin maupun hujan. Saya Pun begitu nyaman dengan hotel dan makanan yang disediakan.

5.      Menjaga Sikap , ucapan dan perbuatan di tanah suci

Beribadah Haji dan Umroh  sejatinya itu adalah undangan dari  Allah SWT kepada kita sebagai tamuNYa. Sebagai tamu yang baik, maka bersikaplah secara sopan dengan menjaga hati, sikap, ucapan dan perbuatan di sana. Sekali saja ada pikiran atau hati kita kotor, maka Allah Yang Maha Mengetahui akan memperingatkannya.

Seperti cerita saya saat mau sholat di Masjid Nabawi. Saya sedikit ‘meremehkan’ Nenek yang sudah sepuh, “ Mbah, jalannya kua nggak?  takut kakinya sakit.” Kata saya kepada Mbah tersebut.

Ternyata...
Bukannya Mbah yang nggak kuat jalan,  tapi saya sendiri, wkwkwk.  Astaghfirullah, bener lho, kaki saya sakit dan kram. Dan akhirnya bisa berjalan normal kembali setelah berhenti untuk beristighfar  sejenak.

6.      Senantiasa Beristighfar dan Sholat Taubat Saat Dihadapkan Masalah.

Ketika kita diingatkan  saat di Tanah Suci karena kesalahan yang mungkin kita tidak sengaja melakukannya, maka segeralah beristighfar memohon ampunan dan pertolongan kepada Allah SWT. Agar diberikan jalan keluar.

7.      Maksimalkan Untuk Beribadah Bukan Untuk Berbelanja

Saat Allah beri kesempatan untuk beribadah umroh, maka pergunakan semaksimal mungkin untuk beribadah. Karena belum tentu kita diberi kesempatan yang lain.  Namun jika kita ingin berbelanja cari waktu yang tepat tapi jangan sampai mengesampingkan niat suci ibadah kita.

Pengalaman beberapa orang, untuk oleh-oleh haji /umroh buat saudara atau tetangga, sudah dipersiapkan sebelum berangkat umroh. Termasuk yang saya lakuakn juga. Saya belanja barang-barang seperti kurma, kismis, kacang, sajadah atau jilbab di toko oleh-oleh haji dan umroh. Ini sangat membantu mengurangi barang-barang yang harus dibeli di sana. Hanya beberapa barang saja yang saya rasa di Indonesia tidak saya temukan baru saya beli.

8.      Tertib ikut panduan dari Muthawif

Muthawif dipersiapkan dari biro untuk mendampingi perjalanan haji atau umroh agar dapat berjalan lancar. Ikuti petunjuk Muthawif untuk mengikuti aturan secara benar terlebih jika diminta untuk selalu membawa tanda pengenal kemanapun saat di Tanah Suci.  

9.      Ikuti Apa Yang Disunahkan Rasulullah Namun Tetap Menjaga Diri Jangan Sampai  ‘Mengotorinya’

Banyak orang tahu kalau beberapa tempat di sekitar Ka’bah diyakini sangat mustajab ketika berdoa di sana. Diantaranya adalah Multazam dan Hijir Ismail. Rasulullah juga memberi contoh mencium Hajar Aswad dan Batu Rukun Yamani saat tawaf.

Kalau memang situasi memungkinkan kita untuk bisa melakukannya maka lakukan saja, namun perlu diingat  berhati-hati jangan sampai niat suci jadi malah mengotori hati kita. Contohnya rela berdesak-desakan bahkan menyakiti orang agar tujuan kita sholat di Multazam, Hijr Ismail atau mencium Hajar Aswad terwujud. Begitu juga yang saya lihat di sekitar Maqam Ibrahim, beberapa jamaah dari Bangladesh atau India menangis meratap-ratap di tempat tersebut padahal tidak dianjurkan seperti itu. Jangan sampai niat kita nanti malah menimbulkan kemusyrikan.  

Well Sobat, Ini hanya sharing ya, setelah berintrospeksi panjang mengenai apa yang sudah saya lakukan dan seharusnya saya lakukan jika Allah SWT mengundang saya untuk datang kembali sebagai TamuNya di  Kota Suci Mekah dan Madinah. Aamiin...Ya Rabbal alamin..

Semoga bermanfaat dan buat kamu yang belum ke sana, semoga diberi kesempatan serta rezeki yang cukup untuk berkunjung di kota Suci tersebut menjadi Tamu Allah SWT. Aamiin...Ya Rabbal alamin..

wallahu a'lam bishawab

wassalamualaikum wr wb

Monday, December 24, 2018

Tips menjadikan Anak Sukses dan Berkarakter Ala ‘Mamak’ Tere Liye

December 24, 2018 19 Comments


Assalamualaikum Sobat Blogger,

Apakah masa kecilmu sangat sempurna selalu penuh canda tawa dan kegembiraan? Jika mau jujur, pastinya  tidak, ya.  Ada memori  ketika kita kecewa karena keinginan tidak terpenuhi oleh orang tua.  Atau  rasa marah tidak terima saat Ibu memberi hukuman karena kesalahan kita dan yang lainnya. Namun dengan cara mendidik mereka yang mungkin kita sukai atau tidak, kita yakini bahwa tujuan mereka baik. Ingin menjadikan anaknya jadi orang yang sukses, berkarakter baik  dan berhasil di masa depan.

Sobat Blogger, sama seperti kisah masa kecil anak manusia, ada tangis, tawa, sedih dan lucu, penulis berbakat “ Tere Liye” juga mengungkapkan perjalanan hebat masa kecil  4 bersaudara dalam novel apik berjudul “Serial Anak-anak  Mamak.“ 

Serial ini sungguh sangat menginspirasi. Bagaimana tidak tokoh tetua di dalamnya mulai dari Mamak, bapak, Guru Pak Bin hingga Nenek Kiba, guru mengaji di kampung tersebut mengajarkan anak kebaikan dengan cara yang jarang  kita temukan di zaman sekarang. Tangan dingin merekalah yang membuat anak-anak didiknya menjadi ‘harta karun’ yang sangat berharga  nilainya. Dari semua orang yang menginspirasi di serial ini, saya paling berkesan dengan cara mendidik ‘Mamak.’

Iya, Gaya ‘Mamak’ di sini bukan yang selalu lemah-lembut tidak pernah marah. Bukan tipe mamak yang takut kalau membentak anak  maka ribuan sel otaknya akan mati seperti  teori  sekarang, bukan pula dengan gaya keras yang mengontrol anaknya jadi apa yang dia mau, namun  ‘Mamak’ berbeda.

Bagaimana gaya ‘Mamak’ hingga Eliana, si sulungnya berhasil menjadi aktivis penyelamat lingkungan, lalu Pukat, si anak kedua,menjadi seorang peneliti penting di dunia? atau  anak ketiga, Burlian, menjadi orang penting yang menjelajah dunia serta si Bungsu, Amelia  yang setelah bergelar doktor kembali ingin membangun desanya? Yuk, Sontek gaya mendidik ‘Mamak’ yang saya rangkum, Sobat!

1.     Memberi Julukan  pada Setiap Anaknya

‘Mamak dan Bapak’ Tere Liye digambarkan orang yang sangat bijaksana. Mereka memberi julukan setiap anaknya dengan julukan yang berbeda. Namun tentunya yang positif, ya. Eliana dijuluki si Anak pemberani, anak sulung ini memberi teladan bagi adik-adiknya. Karena julukan pemberani inilah dia percaya diri melawan orang yang menambang liar serta perambahan kelapa sawit di desanya. Pukat dijuluki ‘si anak pintar,’ karena perkataan yang terus terucap membuatnya berhasil menjadi anak pintar sampai dapat beasiswa ke luar negeri dan menjadi peneliti dunia. Burlian ‘si anak spesial’ selalu melakukan sesuatu yang berbeda. Daya pikirnya yang keren serta cita-citanya ingin menjelajah keliling dunia, terwujud juga. Amelia, yang sejak kecil sakit-sakitan dijuluki ‘si anak kuat’ dia juga berhasil mendapat beasiswa mengikuti jejak kakak-kakaknya dan berhasil menjadi doktor.

2.        Tegas dan Selalu Konsisten

‘Mamak’ selalu bersikap tegas dan pegang konsisten. 'Mamak' bersikap tegas terutama untuk ibadah. Agar anak menjalankan sholat tepat waktu. Di saat yang lain pula, diceritakan saat Pukat dan Burlian membolos karena malas sekolah. Dia perbolehkan dengan syarat mereka berdua harus membantu mamaknya bekerja. Alhasil Pukat dan Burlian menyesal setelah merasakan begitu susah dan capeknya mengikuti mamak bekerja. Itu menjadi pelajaran penting bagi mereka.

3.     Tegar Tidak Pernah Cengeng Didepan Anaknya


Saat menghadapi masalah, ‘mamak’ tidak pernah menampakkan rasa sedihnya. Dia bersikap biasa saja. Ketegaran yang ditunjukkan berdampak pada anak-anaknya di kemudian hari. Mereka menjadi orang yang bersikap 'normal', tidak ‘lebay’ saat dihadapkan masalah tetapi langsung fokus mencari solusinya. 

4.    Peduli Meski Tidak Ditampakkan

‘Mamak’ bukanlah seorang yang selalu menampakkan kasih-sayang dengan menuruti semua keinginan anak, ataupun orang yang selalu lemah-lembut. Namun dibalik itu semua dia  berjuang untuk kebahagiaan mereka. Menyediakan makanan yang bergizi meski harus menahan keinginannya membeli sesuatu, ataupun memenuhi kebutuhan  yang lain demi anaknya.

5.     Mengajarkan Kemandirian, Tanggung jawab dan Kerja keras


Seperti dalam serial Eliana, ‘mamak’ mendidik dia untuk bekerja keras. Sejak pagi Eliana sudah bangun awal untuk membantu mengurusi seluruh keluarganya. Pukat, Burlian serta Amelia pun tidak bisa bebas bermain sebelum tugas mereka selesaikan. Mereka dilatih untuk mandiri sejak kecil.

6.    Mendorong Anaknya Bersekolah Tinggi


Tidak seperti kebanyakan orang jaman dulu yang menyekolahkan anaknya hanya tingkat SD saja, namun ‘mamak dan bapak’ yang dituliskan Tere Liye ini selalu memotivasi anaknya untuk bersekolah tinggi. Dan itu merupakan cita-cita mereka. Jadi di saat keluarga lain mendapatkan uang hasil panen untuk membeli harta benda, namun 'Mamak dan Bapak' menyimpannya untuk anak mereka bersekolah. Seperti contohnya menyimpan uang hasil panen, untuk Eliana masuk SMA, Pukat masuk SMP dan seterusnya. Meski pada akhirnya bersekolah tinggi sampai ke luar negeri karena beasiswa, namun daya juang orang tuanya berperan tinggi dalam keberhasilan anak-anaknya.

7.     Selalu Mendoakan di Sepertiga Malam


‘Mamak’ tidak menampakkan kesedihannya atau rasa sayangnya di depan anak-anaknya, namun ‘Mamak’ meluapkannya lewat doa-doa di sepertiga malamnya. Dia tidak rela jika malamnya hilang tanpa mendoakan anak-anaknya. 

Kalau ada yang berpikir, Ah! itu kah hanya cerita fiksi. Ya, mungkin, tapi bisa juga Tere Liye menuliskannya karena kisah nyata.

Iya, ceritanya hampir sama dengan masa kecil suami saya dan saudara-saudaranya. Masa dimana mereka harus membantu di sawah atau menjaring udang di sungai untuk dijual ke pasar sewaktu masih SD, dan lain sebagainya. Sikap Ibu mereka yang tegas, tegar, tidak selalu menampakkan kelembutan kepada anak-anaknya, namun maknanya berbuah manis di kehidupan mereka. Ibu mertua selalu mendorong anak-anaknya untuk maju. Kemandirian serta kerja keras yang diajarkan memacu mereka untuk menjadi sarjana bahkan dengan biaya sendiri, sampai mereka mendapat pekerjaan layak.

Dan yang mengherankan meski Ibu bersikap sedikit jutek, namun bisa mengikat hati anaknya untuk tetap dekat dengannya.  Saya ingat sewaktu Ibu mertua sakit. Sebenarnya saat itu hanya sakit panas biasa, namun Ibu tidak mau keluar kamar untuk makan. Kemudian suami saya datang, dia menemani di dalam kamar berdua dari pagi sampai sore. Keluar hanya untuk sholat dan mengambil makanan. Saya yang menunggu di luar sampai cemburu. Sampai tiba saat malam,  Ibu mau diantar ke dokter dan alhamdulillah paginya sehat kembali. Dari kejadian itu saya tahu, ternyata kalau Ibu mertua saya sakit, beliau harus tidur bersama anak-anaknya. Seperti ‘Mamak’ Tere Liye,yang sedikit judes, namun ada yang istimewa dari Ibu  mertua saya yang patut saya contoh.  Saya jadi ngefans sama beliau, hehehe...

Well meski setiap orang punya gaya mendidik berbeda, seperti saya pada anak saya, namun cerita yang menginspirasi dan penuh kebaikan perlu kita teladani.

Semoga bermanfaat!

Wassalamualaikum...