Follow Us @soratemplates

Monday, May 11, 2020

Jadi Cinta sampai Menghasilkan Rupiah dari Masak. Asyiknya Yummy App, Bikin Masak Jadi Mudah!

May 11, 2020 25 Comments




“ It’s okay  cewek nggak mahir masak, toh banyak restoran yang buka, bukankah setiap orang punya passion sendiri-sendiri, Bu?” begitu kata adik bungsu saat ibu memintanya belajar masak.  Ibu  bersikap seperti itu karena khawatir anak cewek kok nggak bisa masak, bagaimana tanggapan suaminya nanti. Bukannya nurut, eh dia malah berdalih dengan banyak alasan. Biasalah anak jaman now, kalau dinasehati suka mau menangnya sendiri.


 Bukan hal yang salah memang kalau cewek nggak suka masak. Karena benar setiap orang punya passion berbeda-beda. Kalau tidak suka tidak bisa dipaksa. Tapi menurutku kalau seenggaknya punya niat ingin belajar dan mau sedikit melangkah, bukan tidak mungkin rasa sungkan masak jadi cinta kalau sudah masuk ke dunia ini.

 

Kalau mau disadari, memasak makanan sendiri itu banyak manfaatnya. Dari mengirit pengeluaran, menyenangkan diri sendiri dan orang lain sampai melatih kreatifitas, memasak ini jadi hobi yang mengasyikkan. Terlebih di masa pandemik sekarang, saat setiap orang diwajibkan di rumah saja, memasak sendiri jadi pilihan tepat karena lebih aman, sehat dan bergizi. 





Meskipun sudah tahu banyak manfaatnya memasak tapi kalau belum melangkah tampak terasa berat, terutama bagi anak muda jaman now seperti adik saya. Jadi ingat awal belajar masak dulu, saat itu aku masih jadi anak kos. Ada program masak bersama di kos kami. Program ini bertujuan untuk menghemat pengeluaran dan memaksa penghuni kos belajar memasak. Membantu kami untuk bisa tercukupi makan meski dalam keadaan 'menderita' karena kiriman belum datang. Dalam programnya kami diwajibkan bayar iuran hanya Rp. 100.000 dengan beras 5 kg perbulan. Dibandingkan dengan pengeluaran untuk makan di luar, tentulah uang segitu belum apa-apa. Kemudian dalam programnya, jadwal masak dibuat perhari 2 orang, untuk memasak makan pagi (untuk siang hari juga) dan sore bagi 20 penghuni kos. Budget untuk beli sayur dan lain-lain Rp. 75,000 per hari. Kelihatan sedikit buat 20 anak, tapi herannya kami tetap bisa makan masakan yang yummy dan bergizi. Namun sayang terkadang ada rasa bosan karena nemunya masak itu-itu saja. Untuk memastikan ukuran berapa porsi agak sulit. Jadi untuk menyiasatinya terkadang aku telpon ibu dan tanya ide masakan sebagai menu teman-temanku itu.

 
Bersama teman-teman kos

 
Beberapa tahun kemudian, setelah menjadi ibu, kesukaan akan memasak semakin menjadi, apalagi suami dan anak demen makan. Nggak menyangka kebiasaan masak bersama teman jadi pengalaman berharga. Namun persoalan sama muncul seperti saat masak di kost dulu yaitu ketika ide masak mentok hanya itu-itu saja. Anak-anak suka bosan. Alhasil makanan dan tenaga yang dihasilkan jadi terbuang percuma.

Ingin bereksperimen lebih, namun berpikir ulang, lihat dompet. “ Ah, bisakah jatah uang makan ini sesuai tanggalnya?”  Jadi ibu harus pintar segalanya, ya. Hal lain yang suka jadi drama adalah saat anak mengeluh ibunya banyak menghabiskan waktu di dapur. Persoalan itu kalau berlarut-larut bisa berbahaya, jadi harus dicari solusinya. Kalau bisa dibuat gampang kenapa harus susah?  

Dengan niat itu, aku berselancar di dunia maya sambil cari tips-tips mudah memasak. Cari tahu bagaimana buat aneka bumbu dasar biar masak lebih cepat, tentang tips menyimpan bahan makanan, dan yang terpenting mencari  variasi menu biar anggota keluarga tidak bosan. Daaan... ternyata aku temukan lewat postingan sosial media yang muncul di beranda. Ya, konten itu adalah ‘Yummy App’.  Selanjutnya untuk memudahkan dan mengeksplorasi lebih tentang dunia masak-memasak, aku install  aplikasi  Yummy App’  dalam smartphoneAh, kenapa aku baru kenal sekarang. Yummy App ini menyediakan banyak kemudahan, sesuai slogannya, #Masakjadigampang.


Asyiknya  Pakai Yummy App





 Tersedia tips mulai dari mengolah, memasak sampai platting masakan.

Ada yang seperti saya? Suka ribet mempersiapkan bahan makanan?

Meski sudah terbiasa masak, terkadang hal yang simple seperti cara mengupas telur biar rapi, cara mem-fillet ayam, bahkan cara menyimpan bahan makanan biar awet aku kurang menguasai. 

 

Di Yummy App ini ada bagian kategori “Yummy  Tips.” Mau cari tips apa? Tips mulai dari mempersiapkan, mengolah bahan atau cara platting makanan lengkap ada disini. Sangat membantu kita terutama yang baru belajar masak. 


Dalam kategorinya, kita juga bisa menjumpai Yummy resep dasar, makanan pembuka, minuman bahkan MPAsi alias makanan pendamping asi juga ada. Keren banget aplikasinya.


 



Memasak mudah hanya dengan lima langkah


Yummy App menyediakan resep serta video yang berdurasi paling lama 45-50 menit. Yang buat jatuh cinta, kita dituntun hanya dalam lima langkah. Buat orang yang nggak sabaran, dipastikan, lima langkah ini bisa menuntun  kita memasak sesuai menu yang diinginkan mau makanan berat atau ringan.

 Tersedia banyak resep


 “ Bu..aku bosen makannya itu-itu aja,” ah, biasa keluhan dari mulut si kecil yang biasanya diikuti dengan aksi GTM alias gerakan tutup mulut. 

Ini jadi drama yang buat baper. Mungkin ibu-ibu yang lain juga mengalaminya saat nyuruh anak makan. Tapi sejak ada Yummy App di smartphone, drama seperti ini bisa dihindari.  

Meski nemu bahannya cuma tempe, tahu, telur atau ayam,  namun jangan kuatir varian resep bahan itu di Yummy App ada banyak. Bukan itu saja, resep-resep yang ada juga dilengkapi dengan ukuran porsi untuk berapa orang yang mengonsumsi. Ini bagus jadi menuntun kita kalau ingin masak lebih buat dibagikan tetangga. 

" Ayo adek, yuk kita masak bareng sambil liat video ini." 

Tanpa marah-marah, persoalan selesai. Ibu asyik masak, si kecil pun ikut asyik menikmati tontonan videonya. Memang sebagai seorang ibu, kita harus lebih kreatif. 


 Tersedia fitur memasak yang menyesuaikan budget


Jadi anak kos dulu, suka bingung saat budget mulai menipis. Saat sekarang sudah menjadi ibu pun tidak mudah mengatur keuangan di akhir bulan. Bersyukur, Yummy App ngerti banget tentang permasalahan ini.

 

Misal budget masak kita hari ini hanya Rp. 20.000, bingung mau masak apa. Mudah sekali solusinya, tinggal ketik saja di filter resep Yummy App. Nantinya kita direkomendasikan beberapa resep masakan yang hanya mengeluarkan sesuai budget. Pilihlah yang  kita suka.

 

Saat tanggal tua, apalagi dalam keadaan sulit pandemik seperti ini masih bisa berkreasi makanan demi menyenangkan keluarga, terasa bahagia. Tetap bisa makan enak meskipun murah!





Jadi penuntun masak sesuai bahan yang tersedia di kulkas


Stok makanan di kulkas hanya bahan seadanya dan belum sempat belanja? Pernah seperti ini? Persis pengalamanku kemarin. Udah sore pengen buat makanan tapi bingung mau buat apa karena belum sempat belanja.

 

Ingat di  Yummy App ada fitur ini. Hanya dengan memasukkan kata kunci menu makanan yang tersedia di kulkas, resep dan menu andalan pun muncul. No more panic, bahan seadanya tetap bisa masak spesial. Dan akhirnya jadilah cemilan sehat lumpia sayur yang aku sontek dari Yummy App siap disajikan. Tak lupa pula aku buat pendampingnya berupa saus lumpia.





  Berbagi resep bersama komunitas



Kalau sudah mahir bagaimana? pastikan kita ke level berikutnya. Ubah potensi yang ada untuk menghasilkan uang. Yes, ini juga yang ada dalam pikiranku. Ternyata tidak sulit, tinggal masuk ke halaman komunitas, kemudian klik “Buat Resep.”

 

Di situ kita diminta mengisi mulai dari judul, deskripsi, bahan-bahan, cara memasak hingga foto-foto resep. Udah rencana nih mau buat foto-foto yang bagus dan memastikan struktur penulisan terisi dengan benar. Setelah Upload Resep”  dan postingannya diterbitkan di Yummy app, pasti ada kebahagiaan tersendiri, hihihi...



      Mau naik ke level berikutnya? Ikutan kompetisi masak untuk meraih 100 poin setiap resep masakan yang disetujui chef Yummy



Meski suka masak, tapi kalau ikutan kompetisi gitu masih nggak pede. Tapi kalau kompetisi di Yummy App? Mungkin ini jadi alternatif yang baik buat orang pemalu kayak aku.

 

FYI, ternyata ketika resep diterima dan diterbitkan, kita bisa dapat 100 poin atau setara dengan Rp 10.000. Baiknya Yummy App ternyata ini dibuat agar para chef lebih kreatif dalam menciptakan resep masakan.


Lalu bagaimana caranya?


Kalau yang ini pastikan sebelum kita  upload resep masakan dan mengikuti kompetisi, kita mengisi dulu halaman “Akun Bank” dan menyertakan foto rekening serta  KTP. Kemudian, melengkapi seluruh data-data yang diminta.




Awards buat Yummy App






Yummy app ini ternyata pernah mendapatkan award di akhir tahun 2019, sebagai aplikasi terbaik Google Play 2019 di kategori esensial sehari-hari. Tentunya prestasi ini diakui bahwa Yummy App membantu penggunanya untuk menjalankan tugas sehari-hari dengan lebih efisien dan tidak terburu-buru.


Dengan munculnya aplikasi ini tampaknya bisa mengobati para generasi Z yang malas turun ke dapur. Jangan heran jika nantinya setelah cinta masak, berbagai menu kreatif mereka akan banyak yang muncul dan bisa dijadikan usaha yang menjanjikan.



Well, Jaman sekarang  dengan adanya kecanggihan teknologi, terutama aplikasi bermanfaat yang tinggal diinstall saja  dalam gawai kita, hendaknya buat kita semangat berkarya. Buat kamu yang hobi masak, nikmati keuntungan yang ada dengan menyediakan aplikasi Yummy App di telpon pintarmu. Masak jadi irit, enak dan menyenangkan dengan Yummy AppYuk cari tahu tentang Yummy App kelebihannya di sini.


Pastinya Yummy App buat #MasakituGampang! Jadikan mood kita senang.



Tulisan ini diikutkan dalam lomba # Blog Competition Yummy x Popmama 2020.


 



Friday, May 8, 2020

RESENSI NOVEL HUJAN TERE LIYE

May 08, 2020 0 Comments

Resensi Buku


Judul Buku : Hujan

Penulis        : Tere Liye

Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan      : ke-30, Februari 2019

Tebal           : 320 halaman, 20cm

 

“ Tetapi dia menyampaikan kebenaran. Penduduk bumi telah melupakan nasihat lama itu. Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan.”( halaman 288)


“ Ratusan orang pernah berada di ruangan ini. Meminta agar semua kenangan mereka dihapus. Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”( halaman 308)

 

Tentang persahabatan

Tentang  cinta

Tentang melupakan

Tentang perpisahan

Tentang hujan

 

Novel ini berkisah  tentang kehidupan seorang gadis bernama Lail bersama sahabat  yang dia cinta bernama Esok.  


Novel  dibuka dengan percakapan antara Lail dan Elijah, seorang perawat yang diminta untuk menghapus  kenangan  Lail akan hujan. Hujan gerimis, hujan asam serta hujan salju mengingatkan Lail tentang  cinta dan perpisahan akan orang terkasihnya, Ibu, Ayah serta Esok.


Kenangan akan hujan yang ingin Lail hapus dimulai saat dia berusia 13 tahun, pagi itu  bersama Ibunya, Lail hendak ke sekolah naik kereta. Sedangkan Esok, pemuda 15 tahun yang nantinya menjadi sahabat Lail, saat itu juga berada dalam satu gerbong kereta bersama 4 kakaknya hendak pergi ke sekolah juga. Gerimis, Lail memandang ke luar jendela, hingga tak disangka kemudian terjadi  goncangan yang dahsyat , diketahui sebagai peristiwa gunung meletus disertai gempa super yang memporak-porandakan dunia.


 Peristiwa itu menewaskan ibu Lail, 4 kakak Esok dan banyak orang.  Beruntung Lail dapat diselamatkan oleh Esok, pemuda baik yang kemudian diketahui ternyata ibunya yang berada di rumah masih hidup, meski harus cacat karena kakinya harus diamputasi. Bencana  itu juga  menewaskan  Ayah Lali yang saat itu  berada di negara lain.


Orang-orang yang selamat termasuk Lail, Esok dan Ibunya kemudian tinggal beberapa lama dalam tenda pengungsian sampai pemerintah setempat menstabilkan keadaan. Suasana pengungsian yang terbatas petugasnya membuat Lail dan Esok ikut tergerak membantu  mengurusi para korban.  Kesibukan Lail dan perhatian Esok padanya, membuat Lail sedikit melupakan kesedihan. Lail menjadi jatuh hati pada Esok.


Kebersamaan mereka sayangnya tidak lama. Sebuah keluarga terhormat bermaksud mengadopsi  Esok.  Keluarga tersebut yang merupakan seorang walikota, juga  berjanji merawat  Ibu Esok bersama mereka. Walikota itu diketahui mempunyai anak yang cantik bernama Claudia. Lail kemudian hidup di panti sosial bersama banyak anak yang senasib dengannya.


Di panti sosial, Lail bertemu dengan seorang gadis yang lucu, ceria serta pemberani. Dialah Maryam. Bersama Maryam Lail mendapatkan banyak pengalaman. Termasuk pengalaman yang mematik jiwa sosial dan patriot saat mereka masuk dalam organisasi  relawan.


Meski tidak bersama,  Lalil tetap bisa bertemu Esok karena Esok rutin datang  demi  memberi perhatian pada sahabatnya itu. Ibu Esok kembali ke rumahnya sambil membuka toko bakery. Sampai setelahnya pertemuan rutin itu tidak bisa dilakukan lagi karena Esok yang pintar harus pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah di Universitas ternama.


Lail bersama Maryam menikmati kegiatan mereka menjadi relawan, sampai mereka mendapat pengalaman berarti yang membuat mereka jadi pahlawan bagi banyak orang dan menjadikan mereka orang teristimewa, relawan dengan penghargaan tertinggi.


Lail dan Maryam kemudian melanjutkan sekolah sebagai perawat dan Esok mengerjakan proyek luar biasa untuk menyelamatkan penduduk bumi dari bencana buatan manusia.


Prediksi Esok tepat, ternyata ketika iklim di bumi tidak terkendali, para petinggi negara berlomba lomba mengirimkan pesawat ulang-aling dengan menyemprotkan gas anti sulfur dioksida di lapisan stratosfer yang membuat iklim berangsur pulih namun masalah baru muncul, yang membahayakan kehidupan manusia.


Esok dengan teknologi ciptaannya bermaksud mengirimkan penduduk bumi ke planet  lain yang lebih aman. Namun sayangnya penduduk yang dapat pergi tidak semua, mereka harus dipilih secara acak. Esok yang saat itu punya 2 tiket untuk pergi akhirnya tiket tersebut jatuh pada ibunya dan Claudia, anak orang tua adopsi Esok yang Lail cemburu. Di sini terjadi kesalahpahaman yang membuat Lail berpikir Esok tidak peduli  lagi padanya. Lail ingin menghapus segalanya tentang Esok. Maryam merasa sedih Lail ingin melakukannya. Esok mengetahuinya dan dia berusaha keras agar Lail tidak melakukannya. Lail sudah dalam tahap puncak penghapusan memory, akankah kenangan Lail tentang Esok menjadi hilang?


 

Kelebihan Novel Hujan Karya Tere Liye

           Novel Hujan karya Tere Liye ini sangat menarik. Cerita didalamnya sarat akan nilai-nilai kepedulian dan keberanian. Ditambah pemaparan imajinasi teknologi tingkat tinggi di tahun 2050. Plot-twist yang dimunculkan membuat pembaca larut dan penasaran untuk terus membacanya. Dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami membuat novel ini asyik untuk dinikmati.


 Kekurangan Novel Hujan Karya Tere Liye

           Sayangnya tokoh Lail dalam novel ini mempunyai karakter kurang kuat. Selain itu dimunculkannya bencana dan peristiwa tidak mudah dihadapi manusia, namun Tere Liye tidak menempatkan para tokoh itu untuk berdoa dan meminta petunjuk pada yang Kuasa. Semua hanya fokus pada nilai rasa manusia dan teknologi.

 


Monday, May 4, 2020

Memory Kost

May 04, 2020 31 Comments
Assalamualaikum warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah senangnya bisa ngeblog lagi. Postingan perdanaku di awal Mei ini akan bercerita tentang memory kostku dulu. Masya Allah kalau mengingat itu senang rasanya, suka ketawa sendiri, hihihi. Aku merasa beruntung bisa dipertemukan bersama mereka selama kurang lebih 5 tahun. 

Meski sekarang sudah puluhan tahun berpisah, Alhamdulillah satu sama lain masih saling bersilaturahmi. Terlebih saat sekarang sudah diberi kemudahan. Bisa berkomunikasi lewat teknologi Whatsapp.

Lika liku hidup anak kost yang penuh warna itu sayang sekali kalau dilupakan begitu saja. Request dari sahabat, kisah kami ingin dibukukan biar anak kami kelak tahu. Saya coba mengingat setiap memory sejak berada di situ. 
Inilah kisah pertama yang ingin saya ceritakan. Semoga bermanfaat, Terima kasih



Sore itu, aku menikmati alunan suara merdu, suara serak-serak basah juga serak-serak kering dari beberapa senior kos juga teman selevel penghuni kos baru. Bukan kontes menyanyi ya, tapi acara bercerita bolehlah dikatakan acara mengghibah alias bergosip.


 Asyik sekali mendengar untaian kalimat para senior kosku yang logatnya berbeda-beda. Logat semarangan yang ciri khasnya ada suara seperti kambing, kata ‘mbek’, logat pekalongan dengan kata ‘co’e,’ iki hooo’ dengan mulut terbuka membentuk huruf O, dialog pantura dengan kata ‘nyonge’ juga dialek banyumasan yang suka buatku tergelak sendiri meski bukan cerita lucu yang muncul.


Acara mengghibah ini cukup sering dilakukan di tempat favorit banyak anak dan tempat itu  adalah halaman depan kamarku. Perlu diketahui, kos kami terdiri dari 2 bagian. Bagian depan ada 7 kamar dengan 6 kamar yang saling berhadap-hadapan, dan 1 kamar  di depan ruang tamu. Bagian belakang ada 8 kamar berhadap-hadapan dengan median taman luas terbuka. Bukan taman asli sebenarnya, itu hanya sebuah lahan yang diperuntukkan untuk menjemur pakaian. Mungkin karenanya para penghuni kamar belakang mendapat curahan sinar matahari yang cukup terbukti dengan warna kulit anak-anaknya yang  lebih gelap dibanding penghuni kamar depan.  Kamar mandi, dapur, tempat cuci baju juga ada di bagian belakang. Dengan limpahan sinar sang surya serta udara segar, pantaslah kalau bagian belakang jadi favorit kami.


Mengikuti acara ghibah,  aku sebagai anak baru tentunya jaga image. Tidak banyak cincong tapi lebih banyak mendengar. Imajinasikan saja sikapku saat itu  mirip seperti cute kitty yang selalu bersikap manis. Aku tidak banyak menimpali saat mereka bercerita, cukup mendengar dan mengambil pelajaran dari apa yang dibicarakan.

           

Dari semua gosip yang aku nikmati, ada satu hal yang sangat aku benci mendengarnya. Baik itu gosip tentang keburukan maupun kebaikan seseorang yang dibicarakan. Gosip itu adalah tentang mbak Fitri. Kalau  nama itu tersebut aku mau tidak mau harus ikut menimpali agar pembicaraan tidak melebar kemana-mana.


“ Eh temanku ya, tadi malam cerita  ada yang mainan pintu tengah malam di kosnya,” kata mbak Yoshida. Seperti ini “ kreek...kreek..kreek,” gadis ayu berkulit putih itu memainkan pintu kamar mandi.


“ Kira-kira mbak Fitri dolanan lawang juga, ora, ya? hahaha” tawa Mbak Hikmah, dengan logat ngapaknya.


“ Eh, mbak, jangan bicara tentang mbak Fitri, dong” kataku dengan suara lirih. Aku yang sedari tadi hanya mendengar harus ikut mengingatkan.


“ Nanti dia dengar,” tambahku


Kalau hal itu terjadi, mereka sih  fine-fine saja karena kamarnya di depan. Lha aku, kamarku di belakang yang posisinya paling dekat kamar mandi. Jika sampai mbak Fitri melakukan itu aku lah yang pertama-tama mendengarnya. Betapa gampangnya mereka menggosip tentang mbak Fitri tidak berpikir kalau sampai mbak Fitri  yang mereka bicarakan itu mungkin sebenarnya tahu.


“ Iya nanti dia nggak terima, lho!” Nina, teman sekos sekaligus teman kelasku ikut berkata.


” Halah, macem-macem nanti kita kerjain dia.”


“ Mbak, sst..” aku  memberi tanda pada mbak Evi agar dia tidak melanjutkan bicaranya yang asal.


“ Kamu kenapa, Nur? Takut ya? nggak usah takut. Nanti kita kerjain dia. Kita ngumpet di dalam bak mandi terus kita gedorin dia, biar jantungan. Wkwkwk” Mba Evi bicara tanpa tedeng aling-aling. Tidak tahu kalau mungkin mbak Fitri berada di belakangnya.


“ Iya nih, sekali-kali mbak Fitri harus dikerjain.” Tambah mba Yoshida.


“Inget nggak cerita mbak Septi saat dia ngagetin makan apel di belakangnya. Kebangeten deh, dia” mbak Evi menimpali. Cewek putih imut itu juga menambahkan katanya selain itu mbak Septi, senior kosku yang jadi mahasiswa Prancis itu juga pernah dilihatin saat mbak Fitri berdandan ala noni Belanda.

Bergosip tentang mbak Fitri sungguh nggak ada asyik-asyiknya. Yang ada malah menyeramkan. Beberapa dari teman-teman kos pernah punya pengalaman bersama mbak Fitri. Pengalaman yang sebenarnya nggak satu pun orang ingin mendapatkannya, begitu juga aku. Namun kenyataanya aku mendapatkannya bahkan saat malam pertama di kosku ini.


Saat itu aku yang baru datang sebagai mahasiswa baru bermalam lebih awal dari teman-teman yang lain. Suasana kos yang sepi karena masih dalam liburan semester itu tampaknya membuat mbak Fitri ingin menunjukkan eksistensinya, terlebih padaku yang seorang penghuni baru.


            Ya, meski fisiknya tidak tampak, tapi keberadaan mbak Fitri sebagai penghuni kos sangat terasa. Aku yang sudah merasa bertindak-tanduk sopan sebagai penghuni kos baru malah dianya yang cari perhatian dengan tidak sopan.


Malam itu aku yang sudah capek ingin beristirahat, dengan sangat tidak sopannya dia sengaja menggoyang-goyangkan agar aku terjaga sepanjang malam. Dia membuat badan kaku keluar keringat dingin. Dari mbak Fitri lah aku tahu bagaimana rasanya saat bulu kuduk berdiri.


Selanjutnya mbak Fitri juga tak segan mengganggu orang tidur. Seperti malam itu, setelah siangnya mbak Yosidha cerita tentang pintu kos temannya yang bersuara sendiri, tampaknya itu memberikan ide buat mbak Fitri untuk mengikutinya juga.


 “ kreek...kreek..kreek.... kreek..kreek..kreek... kreek...kreek..kreek,” suara deritan pintu dimainkan terdengar bagai orang belajar biola pertama kalinya. Dengan tempo lambat, cepat, lambat kembali. Sangat mencengangkan. Membuat orang kecut nyalinya. Malam itu mbak Fitri sukses melakukan apa yang mbak Yoshida ceritakan.


Alhasil seperti biasanya. Aku baru bisa tidur setelah suara ayam berkokok dan ketika bangun kepala pusing kliyengan disertai mata panda tetap berangkat kuliah.


***


Mbak Fitri seperti apa tampangnya sebenarnya tidak begitu jelas. Teman-teman kos ngomong hanya katanya. Kata mbak Septi penampakannya seperti noni-noni Belanda. Mbak Lili bilang tidak begitu, karena dia pernah membawa tanah dari kos dan diterawang oleh orang pintar tidak seperti itu. Teman seangkatan, Erni juga pernah ditampakkan. Tapi belum sempat aku tanya bagaimana penampakannya Erni sudah pindah kos. Aku ingin bertanya apakah yang dia lihat sama seperti yang aku lihat.


Seperti apa yang aku lihat tidak seperti cerita teman-temanku itu. Tampangnya tidak seperti noni-noni Belanda yang putih berhidung mancung, ataupun seperti kebanyakan wanita Jawa yang berkulit sawo matang dengan hidung sedikit pesek, tidak sama sekali. Iya,tahu kenapa? karena yang aku lihat dia tidak berhidung sama sekali.


Saat itu aku masih tergolong penghuni kos baru juga, karena seingatku belum sampai satu semester di kos itu. Aku yang merasa sangat capek baru datang dari kampung tidur berbaring seadanya. Maksudnya tidak mempersiapkan diri seperti biasanya, berganti baju, bersih-bersih muka dan lain sebagainya.

Aku berbaring dan menghadap pinggir ranjang. Seingatku karena saking capeknya aku nggak merasa kalau kepalaku berada pas menempel di pinggiran ranjang. Entah pada menit ke berapa dan sudah memasuki face deep sleep atau belum saat tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang datang.


Nur, aku nyilih awakmu, yo,” suara lembut itu berkata


Mbuh ah, aku ngantuk,” jawabku masih dengan tidak sadar.


Oh..Koe!” suara lembut itu berubah keras seperti marah.


Tiba-tiba dia menempelkan tangannya di dadaku. Aku merasa tercekik.


“ A..a..a...,” Cuma kata itu yang muncul.


Saat itulah aku melihat dengan telanjang mata penampakan yang kuduga mbak Fitri. Rambut panjang, berbaju putih, namun tampangnya polos, halus. Tanpa mata, hidung, alis dan segala macam pelengkap wajah.


Sungguh mengerikan sekali, ya. 


Mbak Fitri inilah alasanku  tidak betah di kos. Sudah rencana hanya cukup satu semester saja di kosku ini. Namun kemudian aku berubah pikiran. Sangat disayangkan jika hanya seorang Fitri aku jadi kehilangan rejeki, harta benda serta pengalaman hidup yang sangat berharga sekali,yaitu teman-teman kos.


Selanjutnya kisah mbak Fitri hanya jadi cerita sampai satu semester saja di kos itu. Ada satu kisah yang mungkin jadi pelajaran buat mbak Fitri untuk tidak menggangguku lagi. Apa kisah itu? Tampaknya lebih asyik jika dituliskan di bab lain lagi.


Kisah mbak Fitri membekas 1 % di otakku, lebih mengasyikkan kisah kebaikan, pelajaran hidup teman-teman kosku tentang hal yang lain. Oiya kalau kamu penasaran tentang namanya, sungguh kami sebenarnya tidak tahu. Panggilan mbak Fitri sekilas pernah diucapkan mbak Evi dan akhirnya kami suka menyebutnya demikian.