Follow Us @soratemplates

Monday, May 4, 2020

Memory Kost

Assalamualaikum warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah senangnya bisa ngeblog lagi. Postingan perdanaku di awal Mei ini akan bercerita tentang memory kostku dulu. Masya Allah kalau mengingat itu senang rasanya, suka ketawa sendiri, hihihi. Aku merasa beruntung bisa dipertemukan bersama mereka selama kurang lebih 5 tahun. 

Meski sekarang sudah puluhan tahun berpisah, Alhamdulillah satu sama lain masih saling bersilaturahmi. Terlebih saat sekarang sudah diberi kemudahan. Bisa berkomunikasi lewat teknologi Whatsapp.

Lika liku hidup anak kost yang penuh warna itu sayang sekali kalau dilupakan begitu saja. Request dari sahabat, kisah kami ingin dibukukan biar anak kami kelak tahu. Saya coba mengingat setiap memory sejak berada di situ. 
Inilah kisah pertama yang ingin saya ceritakan. Semoga bermanfaat, Terima kasih



Sore itu, aku menikmati alunan suara merdu, suara serak-serak basah juga serak-serak kering dari beberapa senior kos juga teman selevel penghuni kos baru. Bukan kontes menyanyi ya, tapi acara bercerita bolehlah dikatakan acara mengghibah alias bergosip.


 Asyik sekali mendengar untaian kalimat para senior kosku yang logatnya berbeda-beda. Logat semarangan yang ciri khasnya ada suara seperti kambing, kata ‘mbek’, logat pekalongan dengan kata ‘co’e,’ iki hooo’ dengan mulut terbuka membentuk huruf O, dialog pantura dengan kata ‘nyonge’ juga dialek banyumasan yang suka buatku tergelak sendiri meski bukan cerita lucu yang muncul.


Acara mengghibah ini cukup sering dilakukan di tempat favorit banyak anak dan tempat itu  adalah halaman depan kamarku. Perlu diketahui, kos kami terdiri dari 2 bagian. Bagian depan ada 7 kamar dengan 6 kamar yang saling berhadap-hadapan, dan 1 kamar  di depan ruang tamu. Bagian belakang ada 8 kamar berhadap-hadapan dengan median taman luas terbuka. Bukan taman asli sebenarnya, itu hanya sebuah lahan yang diperuntukkan untuk menjemur pakaian. Mungkin karenanya para penghuni kamar belakang mendapat curahan sinar matahari yang cukup terbukti dengan warna kulit anak-anaknya yang  lebih gelap dibanding penghuni kamar depan.  Kamar mandi, dapur, tempat cuci baju juga ada di bagian belakang. Dengan limpahan sinar sang surya serta udara segar, pantaslah kalau bagian belakang jadi favorit kami.


Mengikuti acara ghibah,  aku sebagai anak baru tentunya jaga image. Tidak banyak cincong tapi lebih banyak mendengar. Imajinasikan saja sikapku saat itu  mirip seperti cute kitty yang selalu bersikap manis. Aku tidak banyak menimpali saat mereka bercerita, cukup mendengar dan mengambil pelajaran dari apa yang dibicarakan.

           

Dari semua gosip yang aku nikmati, ada satu hal yang sangat aku benci mendengarnya. Baik itu gosip tentang keburukan maupun kebaikan seseorang yang dibicarakan. Gosip itu adalah tentang mbak Fitri. Kalau  nama itu tersebut aku mau tidak mau harus ikut menimpali agar pembicaraan tidak melebar kemana-mana.


“ Eh temanku ya, tadi malam cerita  ada yang mainan pintu tengah malam di kosnya,” kata mbak Yoshida. Seperti ini “ kreek...kreek..kreek,” gadis ayu berkulit putih itu memainkan pintu kamar mandi.


“ Kira-kira mbak Fitri dolanan lawang juga, ora, ya? hahaha” tawa Mbak Hikmah, dengan logat ngapaknya.


“ Eh, mbak, jangan bicara tentang mbak Fitri, dong” kataku dengan suara lirih. Aku yang sedari tadi hanya mendengar harus ikut mengingatkan.


“ Nanti dia dengar,” tambahku


Kalau hal itu terjadi, mereka sih  fine-fine saja karena kamarnya di depan. Lha aku, kamarku di belakang yang posisinya paling dekat kamar mandi. Jika sampai mbak Fitri melakukan itu aku lah yang pertama-tama mendengarnya. Betapa gampangnya mereka menggosip tentang mbak Fitri tidak berpikir kalau sampai mbak Fitri  yang mereka bicarakan itu mungkin sebenarnya tahu.


“ Iya nanti dia nggak terima, lho!” Nina, teman sekos sekaligus teman kelasku ikut berkata.


” Halah, macem-macem nanti kita kerjain dia.”


“ Mbak, sst..” aku  memberi tanda pada mbak Evi agar dia tidak melanjutkan bicaranya yang asal.


“ Kamu kenapa, Nur? Takut ya? nggak usah takut. Nanti kita kerjain dia. Kita ngumpet di dalam bak mandi terus kita gedorin dia, biar jantungan. Wkwkwk” Mba Evi bicara tanpa tedeng aling-aling. Tidak tahu kalau mungkin mbak Fitri berada di belakangnya.


“ Iya nih, sekali-kali mbak Fitri harus dikerjain.” Tambah mba Yoshida.


“Inget nggak cerita mbak Septi saat dia ngagetin makan apel di belakangnya. Kebangeten deh, dia” mbak Evi menimpali. Cewek putih imut itu juga menambahkan katanya selain itu mbak Septi, senior kosku yang jadi mahasiswa Prancis itu juga pernah dilihatin saat mbak Fitri berdandan ala noni Belanda.

Bergosip tentang mbak Fitri sungguh nggak ada asyik-asyiknya. Yang ada malah menyeramkan. Beberapa dari teman-teman kos pernah punya pengalaman bersama mbak Fitri. Pengalaman yang sebenarnya nggak satu pun orang ingin mendapatkannya, begitu juga aku. Namun kenyataanya aku mendapatkannya bahkan saat malam pertama di kosku ini.


Saat itu aku yang baru datang sebagai mahasiswa baru bermalam lebih awal dari teman-teman yang lain. Suasana kos yang sepi karena masih dalam liburan semester itu tampaknya membuat mbak Fitri ingin menunjukkan eksistensinya, terlebih padaku yang seorang penghuni baru.


            Ya, meski fisiknya tidak tampak, tapi keberadaan mbak Fitri sebagai penghuni kos sangat terasa. Aku yang sudah merasa bertindak-tanduk sopan sebagai penghuni kos baru malah dianya yang cari perhatian dengan tidak sopan.


Malam itu aku yang sudah capek ingin beristirahat, dengan sangat tidak sopannya dia sengaja menggoyang-goyangkan agar aku terjaga sepanjang malam. Dia membuat badan kaku keluar keringat dingin. Dari mbak Fitri lah aku tahu bagaimana rasanya saat bulu kuduk berdiri.


Selanjutnya mbak Fitri juga tak segan mengganggu orang tidur. Seperti malam itu, setelah siangnya mbak Yosidha cerita tentang pintu kos temannya yang bersuara sendiri, tampaknya itu memberikan ide buat mbak Fitri untuk mengikutinya juga.


 “ kreek...kreek..kreek.... kreek..kreek..kreek... kreek...kreek..kreek,” suara deritan pintu dimainkan terdengar bagai orang belajar biola pertama kalinya. Dengan tempo lambat, cepat, lambat kembali. Sangat mencengangkan. Membuat orang kecut nyalinya. Malam itu mbak Fitri sukses melakukan apa yang mbak Yoshida ceritakan.


Alhasil seperti biasanya. Aku baru bisa tidur setelah suara ayam berkokok dan ketika bangun kepala pusing kliyengan disertai mata panda tetap berangkat kuliah.


***


Mbak Fitri seperti apa tampangnya sebenarnya tidak begitu jelas. Teman-teman kos ngomong hanya katanya. Kata mbak Septi penampakannya seperti noni-noni Belanda. Mbak Lili bilang tidak begitu, karena dia pernah membawa tanah dari kos dan diterawang oleh orang pintar tidak seperti itu. Teman seangkatan, Erni juga pernah ditampakkan. Tapi belum sempat aku tanya bagaimana penampakannya Erni sudah pindah kos. Aku ingin bertanya apakah yang dia lihat sama seperti yang aku lihat.


Seperti apa yang aku lihat tidak seperti cerita teman-temanku itu. Tampangnya tidak seperti noni-noni Belanda yang putih berhidung mancung, ataupun seperti kebanyakan wanita Jawa yang berkulit sawo matang dengan hidung sedikit pesek, tidak sama sekali. Iya,tahu kenapa? karena yang aku lihat dia tidak berhidung sama sekali.


Saat itu aku masih tergolong penghuni kos baru juga, karena seingatku belum sampai satu semester di kos itu. Aku yang merasa sangat capek baru datang dari kampung tidur berbaring seadanya. Maksudnya tidak mempersiapkan diri seperti biasanya, berganti baju, bersih-bersih muka dan lain sebagainya.

Aku berbaring dan menghadap pinggir ranjang. Seingatku karena saking capeknya aku nggak merasa kalau kepalaku berada pas menempel di pinggiran ranjang. Entah pada menit ke berapa dan sudah memasuki face deep sleep atau belum saat tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang datang.


Nur, aku nyilih awakmu, yo,” suara lembut itu berkata


Mbuh ah, aku ngantuk,” jawabku masih dengan tidak sadar.


Oh..Koe!” suara lembut itu berubah keras seperti marah.


Tiba-tiba dia menempelkan tangannya di dadaku. Aku merasa tercekik.


“ A..a..a...,” Cuma kata itu yang muncul.


Saat itulah aku melihat dengan telanjang mata penampakan yang kuduga mbak Fitri. Rambut panjang, berbaju putih, namun tampangnya polos, halus. Tanpa mata, hidung, alis dan segala macam pelengkap wajah.


Sungguh mengerikan sekali, ya. 


Mbak Fitri inilah alasanku  tidak betah di kos. Sudah rencana hanya cukup satu semester saja di kosku ini. Namun kemudian aku berubah pikiran. Sangat disayangkan jika hanya seorang Fitri aku jadi kehilangan rejeki, harta benda serta pengalaman hidup yang sangat berharga sekali,yaitu teman-teman kos.


Selanjutnya kisah mbak Fitri hanya jadi cerita sampai satu semester saja di kos itu. Ada satu kisah yang mungkin jadi pelajaran buat mbak Fitri untuk tidak menggangguku lagi. Apa kisah itu? Tampaknya lebih asyik jika dituliskan di bab lain lagi.


Kisah mbak Fitri membekas 1 % di otakku, lebih mengasyikkan kisah kebaikan, pelajaran hidup teman-teman kosku tentang hal yang lain. Oiya kalau kamu penasaran tentang namanya, sungguh kami sebenarnya tidak tahu. Panggilan mbak Fitri sekilas pernah diucapkan mbak Evi dan akhirnya kami suka menyebutnya demikian.


31 comments:

  1. Wkwkwk. Jd inget dlu ngkos suka jail juga mbak.. Apalagi aku yg ngomongnya ngapak kadang suka diliatin, tp lama2 temen2ku terbiasa dg kata nyong koe๐Ÿคฃ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelakuan aslinya keluar ya Mba, hehhe.. Nggak ada jaim-jaimnya bersama mereka

      Delete
  2. wah barusan saja meninggalkan flat tempat aku kuliah, hampir tiap malam makan bareng sama mereka bareng cerita apa aja sama berbagai orang dari belahan dunia bahkan, seru jadi kangen sama mereka, karakter orang memang macam-macam ya apalagi dari berbagai daerah gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya banyak kenangan dan pembelajaran hidup juga bersama mereka Ya, mba

      Delete
  3. Duh, kalau berbicara soal makhluk astral itu enggak pernah ada enak-enaknya. Saya memilih walk out, deh. Alhamdulillah, sampai detik ini belum pernah lagi merasakan hal-hal aneh. Hanya 2x saja yang begitu teringat, yaitu saat SD dan SMA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu aja udah Mbak, Aku trauma banget. Tapi sebenarnya ada hal lain lagi yg akhirnya jadi sedikit berani

      Delete
  4. Sereem banget mbak Fitri ini. Apalagi sy bayangkan kayak noni belanda zaman dulu di bangunan tua.. Duduk di kursi goyang yang berderit. Ih mbak ceritanya bikin takut.. Jadi ke mana-mana ngayalnya.. :(

    ReplyDelete
  5. Seremnya, Mbak..hiks. Kebayang mbak Fitri ini kayak noni belanda yang duduk di kursi goyang berderit gitu, kalau saya udah fix nggak bakalan betah di kosan kalau ada orang begini. Hidup nggak bakalan tenang...haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kisah nyata kok Mba, menakutkan memang, setelahnya ada cerita Lain yg buatku jadi sadar dan lebih berani

      Delete
  6. Menjadi anak kos ada suka dukanya Mbak, sukanya mungkin klo pas kumpul dg teman-teman bisa asik bercanda hehe

    Klo pas teman pada pulang kita di tingal sendiri mana kiriman duit blum datang hihi rasanya Horor, lebih horor dari liat hantu hehe

    ReplyDelete
  7. Memang nano-nano banget ya jadi anak kos, aku pun pas kuliah sempet ngekos, trus pernah juga ketemu sama hal-hal "aneh" kayak diatas, tapi nggak tau kenapa dulu kok berani banget ya, pernah sendirian banget di rumah kosan saat temen-temen yg lain udah pada mudik, pdhl rumahnya lumayan gde banget trus gelap pula, dan aku kamarnya diatas, gatau kenapa kok berani-berani aja ya dulu hehe

    ReplyDelete
  8. ampun deh mba. kalau saya mah jelas nggak akan berlama-lama, pindah hari itu juga. nggak sebanding deh digangguin terus gitu sama ketenangan buat produktif kuliah. lagian jugaa, serem gaaa siih mbaaaa huwa hahaha.

    ReplyDelete
  9. Merinding baca bab akhirnya...hiiiii....Mbaaaa...aku kok takut ya.

    ReplyDelete
  10. nge kos ya? salah satu atmosfer yang belum pernag ku rasakan saat kuliah. kalau denger cerita dari teman-teman kayaknya seru-seru gitu. apalagi kalu cerita horor gitu atau melek merem dengerinnya

    ReplyDelete
  11. Jaman lulus kuliah, milih kos belakang kantor. Ini pun kamar kos cuma buat tidur doanggg, malah banyak lembur dan tidur di kantor juga akhirnyaaaa. Tapi seruuu ya, masa-masa ngekos tuh inget masa-masa nunggu abang-abang tukang nasgor keliling

    ReplyDelete
  12. Wahhh jadi inget waktu ngekos di belakang kantor. Pulang kantor udah malem, udahlah tinggal nunggu abang-abang nasgor lewat, hehhehe

    ReplyDelete
  13. Kangen ngekoooss.. smg tahun ini aku bisa ngekos lg ya Mbak... Seru dan jahil kadang teman-teman kost. Tapi kalau Aku enggak pernah berbuat jahil yo apalagi ngerjain orang. Kdg kangen dg masa masa itu, seperti cerita Mbak Di atas

    ReplyDelete
  14. Ya ampun. Ikutan merinding disko baca cerita mbak fitri ini. Biar gak diganggu, dimana pun tempat, sering bacakan surat Albaqarah dan Al-jin. Bahkan rumah baru pun begitu. Setiap ruangan harusnya pernah jadi tempat shalat dan tilawah. Semoga mb fitri gak jadi pinjem badan ya. Kalo gitu, mesti ruqyah ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  15. baca tulisan ini agak bahaya kl malam2 dan sendirian ๐Ÿ˜† subhanalloh astaghfirullohu, terima kasih sdh berkenan berbagi cerita ini. cerita yg uniq dan anti mainstream ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  16. Wah jadi asyiik nih sama yang kurasakan 3 tahun kost di Bogor pindah-pindah masalah ga betah keadaan ini, tapi terakhir kali aku egp aku cuma bilang aku capek jangan diganggu aku tidur saja benaran

    ReplyDelete
  17. Duh, kupikir Mbak Fitri itu siapa? Hehe ternyata eh ternyata ... memang pengalaman ngekost itu pasti banyak cerita serunya.

    ReplyDelete
  18. Ak gak pernah ngekos tapi anakku mau ngekos tahun depan. Seru seru serem ya si mba Fitri iku. Huhu

    ReplyDelete
  19. Hiii seraaammm...saya kalau ngekos selalu berdua dnegan teman haha..m sejak kecil blom pernah sendiri sih meski nggak bisa tidur๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  20. Iih horoorr..
    Aku paling takut kalau di tempat kos udah ada kejadian gitu2.
    Alhamdulillah dulu di tempat kos gak pernah ada.

    ReplyDelete
  21. Duh serem deh
    Mana kubacanya malam pula
    Bisa susah tidur nih

    ReplyDelete
  22. Kangen juga sama kehidupn ngekos. Yaaa kurang lebib sama kaya gini ini.

    ReplyDelete
  23. Ya Allah mbak aku pikir mbak Fitri itu tetangga kost ternyata memedi ya mbak, terus bisa kah mbak mengerjai mbak Fitri? Tapi kalau dia noni belanda masak namanya mbak fitri mbak?

    ReplyDelete
  24. Jadi pengen kuliah lagi ahahahaha... sama anak2 kos yg bocor abis... ah,jadi bernostalgia aku baca ini mbak. Thanks for sharing

    ReplyDelete
  25. Baca ini jadi berasa flash back dong pas kuliah. Sungguh ya pengalaman pas ngekost itu emang menyenangkan, apalagi kalau lagi kumpul bareng-bareng, huahhh

    ReplyDelete
  26. dan akibat postingan ini aku jadi tergerak buat bikin memory kost juga nih, kayaknya seru deh. Dan memang sih kalo d kosan itu kadang suka ada kejadian2 yg bikin bulu kuduk merinding

    ReplyDelete
  27. seru banget mba pengalaman waktu kosannya, aku jadi mau posting memori saat di kosan juga nih

    ReplyDelete