Follow Us @soratemplates

Sunday, December 30, 2018

Mencari ‘Ikhlas’ Demi Terkabulnya Doa.



                                  Gambar : Pexel.com

Ikhlas, kata yang sering kita ucapkan.  Meski kadang belum tentu kita meresapi maknanya.  Pernah begitu, Teman?

Contoh nih ya, ketika seseorang meminta sesuatu sama kamu tapi kamu terlihat kurang ‘ikhlas'. Biasanya teman kamu itu akan menanyakan kembali biar lebih mantap, "Kamu beneran ikhlas"? bisa saja kamu jawab "Iya, aku ikhlas kok" padahal mungkin di hati berkata lain, ya kan?.

Ikhlas juga,  yang merupakan salah satu syarat terkabulkannya doa. Sebagaimana firman Allah
“ Artinya: Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya” (Ghafir: 14).
Ikhlas merupakan tauhid untuk memurnikan ibadah segala apa yang kita lakukan semata-mata karena Allah Ta’Ala.

NAH, Teman! Di sini saya pengin sharing bagaimana perjalanan saya  mengaktivasi rasa Ikhlas itu. Tulisannya panjang banget, silahkan kalau mau pakai metode scanning dan skimming dalam membacanya, wkwkw..semoga bermanfaat!


Penantian Buah Hati yang Lama

Diawali dengan penantian buah hati yang lama. Setelah melewati usia pernikahan selama hampir dua tahun , tanda-tanda hadirnya sang buah hati belum terwujud juga. Akhirnya kami memutuskan untuk menjalani promil .  Dari situ saya tahu kalau saya memang bermasalah. Yup, Kalau yang orang lain  dengan mudah mendapatkan anak, namun tidak begitu dengan saya. Dokter mengatakan kalau saya punya sindrom PCOs.

PCOs ditandai dengan periode menstruasi yang tidak tepat . Memang kenyataannya sejak gadis periode menstruasiku tidak pernah tepat, kadang 2 bulan sekali bahkan pernah satu tahun hanya 3 x.  Karena itu dokter menyarankan untuk program hamil menstabilkan hormon.

Bisa dibayangkan padahal saat itu kami berdua masih hidup di kontrakan. Jadi mau tidak mau setiap bulan harus berhemat untuk menyisihkan uang yang tidak sedikit dalam rangkaian program tersebut.

Dan alhamdulillah setelah program hampir satu tahun akhirnya saya hamil juga.

Namun Qodarullah, calon manusia itu hanya dititipkan selama 4 bulan saja di kandungan. Shock, sedih, tidak terima saat tahu kalau jantung calon anakku sudah berhenti saat aku memeriksakan diri saat USG.   Terlebih karena janin sudah lebih dari 4 bulan maka  harus dilahirkan paksa atau induksi.

Saya ingat saat itu proses induksi dilakukan beberapa kali agar janin keluar. Lewat infus bahkan sampai menggunakan benda sejenis pentil sepeda yang dimasukkan ke rahim menggunakan alat seperti dongkrak gitu, sakiiiit... banget!. Bahkan saya merasakan sakitnya  lebih daripada melahirkan.

Daan... setelah janin keluar dan proses kiret selesai, saya harus disedihkan lagi karena ASI keluar padahal tidak ada yang bisa disusui, hiks..hikss. Akhirmya ASI berhenti setelah proses meradangnya PD saya.

Tertutupnya Mata Hati Saat  Harapan tidak Sesuai Kenyataan

Jahilnya diri saat itu  karena mata hati saya tertutup. Saya benar-benar seperti tidak terima dengan keputusan Allah. Semua saya salahkan, mulai dari suami yang lebih sibuk sendiri, mertua yang banyak aturan, banyak tuntutan di kantor, dan lain sebagainya. Astaghfirullah, aneh kan, saya?

Kemudian setelah 3 bulan proses recovery, dokter menyarankan untuk ikut promil lagi. Sebenarnya saat itu ikhtiar saya tidak hanya lewat medis saja, namun juga dengan mengonsumsi obat herbal, meminta doa orang sholeh dan anak-anak yatim.

Teman-teman tahu kan ya,  bagaimana rasanya kalau lebih dari 3 tahun menikah belum juga diberi buah hati. Mulai dari nyinyiran  teman, tetangga sampai dikatakan mandul sama mertua, hiks,,hiks.. Itu yang membuat saya nggak sabar.

Saya bertanya mengapa setelah semua usaha dan doa, Allah belum mengabulkannya juga? saya merasa ada yang salah dengan yang saya.

Belum Ikhlas. Benar rasa itu tampaknya belum saya resapi. Padahal, ini hal terpenting agar doa dikabulkan. Ya, saya sadar betapa egois saat berdoa saya meminta harus..harus Allah kabulkan. Seakan ibadah, sedekah dan semua yang dilakukan semata-mata agar keinginan saya terpenuhi. Inilah yang salah.

Bukankah memberi keputusan adalah hak prerogatif Allah?. 

Namun bagaimana memunculkan ‘Ikhlas’ itu?

Mencari ‘Ikhlas’ Lewat Aktivasi Kekuatan Hati


Tahukah teman, Saya mencoba dengan keyakinan hati serta mencari tahu tentang hal ini. Maka sembari berikhtiar lewat tenaga medis, saya juga berusaha memunculkan ‘ikhlas’ itu dengan memahami lewat buku yang saya baca.

Buku itu berjudul  Quantum Ikhlas, Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati, karya Erbe Sentanu. Buku ini sangat best seller.

Membaca buku itu seakan membuka harapan saya kembali. Apalagi dalam testimoninya si penulis bercerita tentang hal yang sama, yaitu kesulitan mendapat anak. Doanya terkabulkan juga  setelah mengaktivasi kekuatan hatinya.

Aktivasi kekuatan hati dalam buku ini salah satunya dipancing dengan cara memahami buku serta mendengarkan CD yang menyertainya. CD itu dimaksudkan untuk  UPGRADE HARDWARE  otak bawah sadar.


Bagi teman yang pernah mendengarkan CD ini, mungkin bisa merasakan.
Saat detik pertama kita mendengar bunyi percikan air, suara katak, angin, ah rasanya tenang dan damai. Terasa melepas beban stress saat menarik  gelombang beta menuju gelombang alfa.

Setelah hampir 15 menit, kita akan merasakan seperti melayang, dan melihat sebuah sinar. Saat sinar dan perasaan tenang itu muncul, kita disarankan untuk berdoa kepada Allah meminta apa yang kita inginkan sambil membayangkan keinginan kita,  mencium baunya serta seakan merasakan gerakannya, ya, saya membayangkan seorang bayi yang cantik, lucu dan menyenangkan dengan wanginya yang khas.

Pertanyaannya, setelah UPGRADE HARDWARE  otak bawah sadar memancing rasa ikhlas itu muncul, apakah DOA saya terkabul segera?
Ternyata tidak!. Setelah hampir satu tahun saya telaten mengupgrade otak saya, dan mengikuti program dokter yang belum juga berhasil, akhirnya saya pasrah.

Mendapatkan Esensi  Ikhlas yang Sesungguhnya



Saya hentikan semua usaha. Tidak lagi ke dokter ataupun mendengarkan CD itu.Saya benar-benar pasrah, hanya meminta Allah agar kebaikan tetap terjaga untuk keluarga kami.

Sikap suami yang sabar dan selalu berpositif thinking, itulah yang membuat saya tetap tenang. Kami sudah tidak lagi berpikir untuk treatment bayi tabung, maka dengan tabungan yang ada, kami putuskan untuk membeli rumah.

Saya ingat saat itu kami menandatangani pembelian rumah tanggal 16 September. Dan 4 hari kemudian saya menemukan 'sesuatu' yang ‘ajaib’ menurut diri saya.

Malam itu saya bermimpi di sebuah tanah lapang, ada banyak bayi di sana sini.

Apakah ini pertanda saya hamil? Saya penasaran ingin pakai testpack. Meski sebenarnya saat itu ragu, karena testpack biasanya dipakai kalau wanita sudah telat haid, kan?. Sedang masa haid saya masih 10 hari lagi. 

Bismillah...Saya coba dan ternyata... Masya Allah...Allah Maha Besar,
Allah mengabulkan DOA saya setelah berpasrah diri, pasrah pada putusanNya dengan hidup saya.

Ternyata inilah yang disebut Ikhlas. Perasaan pasrah setelah semua usaha dan doa yang kita lakukan, semata-mata karena Allah SWT.

Disetujui atau tidak, Segala keputusan itu  adalah Hak Allah. Kalau memang iya doa kita terkabul, itu merupakan bonus dari Sang Maha Kuasa.

Kalau dulu saya menutup diri ketika banyak orang berkata  “sabar..sabar..Allah akan memberinya pada waktu yang tepat”.  Namun sekarang sudah lain ceritanya, bisa saya jawab “Iya benar, Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan dan Allah akan memberi yang kita inginkan pada saat yang tepat.”

Memang diri saya yang terlalu jahil untuk cepat memahami. Perlu proses lama untuk menuju ke arah itu, itulah diri saya.  Sangat lebay dan naif, ya?

Alhamdulillah sekarang bayi itu tumbuh dengan sehat dan sekarang sudah berusia 6 th. Semoga dia jadi anak sholehah, selalu sehat dan panjang umur. Aamiin...

Proses pencarian itu meninggalkan bekas bagi kami.

-          Saya dan suami jadi lebih mendekatkan diri kepada Allah
-          Adanya prioritas tetap dari rezeki kami untuk 25 anak-anak yatim yang setiap bulannya datang ke rumah.
-          Serta bertambahnya rasa syukur kepada Allah.

Pengalaman ini juga sering saya tularkan kepada anak didik saya saat mereka galau menghadapi lomba

 Kamu sudah berusaha. Kalau kamu memang juara, itu bonus buat kamu. Kalau ternyata tidak, Allah sudah tahu bagaimana usaha dan doa kamu. Pasrahkan dan terserah Allah saja yang Maha Menentukan, ya.” Itu kata-kata yang sering saya ucapkan saat mendampingi mereka lomba.

Dan Alhamdulillah...karena pemahaman mereka, beberapa kali  doa kami dikabulkan. Lebih dari dua kali, anak-anak yang kami bimbing untuk ikut lomba “ English Contest, Story Telling” bisa menjadi juara satu tingkat provinsi.
*************************************

Nah, itu cerita saya, Duh panjang banget ya, semoga tidak eneg habis membacanya..wkwkwk

No comments:

Post a Comment